Sambel Bu Susan, Sambal Pedas Asli Bali

486001_7aa88f37-a78a-4d09-a884-f282cae67c6d.jpg

Siapa sangka hanya berbekal inspirasi sebuah cabe, Yayak Eko Cahyanto berinovasi dalam menciptakan sebuah produk kuliner yang mudah dicintai oleh masyarakat Indonesia, apalagi bagi mereka yang maniak makanan bercita rasa pedas. Sambel Bu Susan hadir sebagai sebuah alternatif bagi para pecinta pedas untuk menikmati sambal dengan konsep yang praktis dan efisien. Konsepnya sambal botolan yang bisa dibawa kemana-mana dan dinikmati langsung sebagai pendamping nasi dan lauk pauk. Bahkan sambal ini juga bisa dijadikan bumbu masak bagi mereka yang enggan repot meracik bumbu sambal sendiri.

Dengan mengambil nama panggilan istrinya, Sambel Bu Susan pun menjadi sebuah brand sambal baru yang dikerjakan secara industri rumahan. Berbeda dengan sambal-sambal pabrikan yang kaya bahan pengawet, sambal Bu Susan justru hadir dengan sisi alamiahnya beserta varian yang menggigit lidah. Yayak, begitu panggilan ayah muda kelahiran 20 Oktober 1976 ini begitu optimis dengan bisnis baru yang ia lakoni. Saking menjanjikannya, Yayak pun berniat resign dari tempat kerjanya semula di sebuah hotel bintang lima di Bali.

Yayak yang memiliki latar belakang pendidikan desain grafis di ISI Denpasar ini malah lebih sering berkutat dengan seni desain dan ilustrasi ketimbang bisnis. Bahkan ia telah memiliki posisi strategis di hotel tempatnya bekerja sebagai seorang desain grafis yang ulung. Yayak juga merangkap sebagai seorang freelance dalam bidang yang sering dianggapnya sebagai sebuah passion dan hobi sejatinya tersebut. Kliennya pun tak tanggung-tanggung berasal dari perusahaan ternama. Sayangnya, Yayak telah memantapkan hatinya untuk keluar dari zona nyaman. Ia memilih untuk fokus berwirausaha dan akan meninggalkan pekerjaan tetapnya yang telah memberikan banyak pundi-pundi rupiah.

Bersama istrinya Yeni Nur Susanti dan adiknya Ari Febriyanto, Yayak optimis bisa mengibarkan nama sambal Bu Susan sebagai produk kuliner yang diburu oleh masyarakat lokal. Wah, sebegitu menjanjikannyakah prospek dari sebuah usaha sambal botolan home made ini?

Seperti apa kisah suksesnya, simak perbincangannya berikut.

Bagaimana awalnya bisnis Sambel Bu Susan ini berdiri?

Awalnya saya dapet invitation dari kementrian perindustrian. Kenapa dapet invitation ini? Mungkin mereka tahu alamat email saya dari TDA (Tangan Di Atas), sebuah komunitas wirausaha yang saya ikuti. Mereka bilang ada kuota kosong untuk domain (.co.id). Jujur saya belum pernah bisnis kuliner, karena basic saya sendiri adalah designer grafis. Nah, saya bingung harus diapakan domain ini kan lumayan gratis. Yang dipikiran saya waktu itu hanya bisnis clothing. Soalnya saya dulu pernah mengelola usaha ini, namun mesti tersendat di jalan lantaran biayanya yang sangat besar.

Ide untuk membuat sambel itu tercetus?

Terus saya mulai berpikir keras mencari ide usaha yang mudah dikerjakan, namun modalnya juga kecil. Momen itu pun akhirnya tiba. Itu terjadi ketika saya menanyakan kepada istri saya “Malam ini mau makan apa? Gimana kalo kita makan sambal?” Ahaa…ini bisa jadi ide yang brilian, langsung saja syaraf-syaraf dalam otak saya spontan merespon “Kenapa kita nggak bikin sambal saja ya?” Kemudian saya segera telusuri di google. Akhirnya saya menemukan fakta kalau di Indonesia, pebisnis sambal itu sendiri masih jarang. Paling pemainnya hanya Indofood dan ABC. Tentu konsumen sendiri pasti sudah jenuh. Marketnya sudah sangat jelas. Rata-rata orang Indonesia memang doyan pedas kan! Kalau makan tanpa sambal, pasti terkadang nggak afdol. Apalagi nggak semua orang Indonesia itu pintar bikin sambal.Hal ini juga yang membuat saya tercambuk untuk segera merealisasikan usaha sambal ini. Konsep sambal yang kami hadirkan pun sangat cocok bagi mereka yang suka dengan sesuatu yang praktis. Kalau lagi malas masak, bisa pakai sambel Bu Susan. Atau ini juga bisa dijadikan sebagai bumbu masak lho!

Bagaimana dengan kompetitor lokal? Apa yang membuat produk sambel Anda begitu spesial?

Kompetitor untuk produk sambal seperti yang kami buat sejauh ini belum ada untuk kelas home made sendiri. Kalau pun ada yang bikin paling masih di jual secara konvensional di warung-warung. Kebanyakan memang yang masih pabrikan seperti Indofood dan ABC itu. Agar beda dengan produk-produk sambal sekelas Indofood dan ABC, sambal kami pun sengaja di buat tanpa pengawet. Orang-orang Bali biasanya suka sambal matah kan. Nah kita mikir kalau sambal matah kan hanya bertahan 1-2 hari saja. Bagaimana kalau saya buat versi yang matang saja.

Bagaimana Anda melakukan uji pasar terhadap produk Anda?

Kebetulan saya ada project desain di Ayana Hotel. Di sana kan ada kantin yang biasanya kalau siang dipenuhi oleh karyawan yang sedang menikmati makan siangnya. Lantas saya datang menghampiri satu persatu meja mereka dan memberikan mereka beberapa botol sambal hasil kreasi saya. Dari sana, saya minta komen dari mereka apa kelemahan sambal saya. Mereka bilang kurang asin, kurang gini kurang gitu. Nah saya tampung komentar mereka. Kita bikin lagi yang baru sesuai dengan saran mereka, kemudian kembali saya bagikan ke mereka untuk mengetes lagi rasanya apakah sudah pas atau belum.

Cara mempromosikannya?

Pas promo kita bukannya bagi flyer ke publik, tapi bagi-bagi cabe yang ditempelin stiker sambal Bu Susan. Oh ya sistem marketing kami juga menerapkan prinsip bagaimana produk kami tanpa diiklanin pun tetap menjadi incaran customer. Untuk kami tidak membuka warung atau toko. Kami malah mengoptimalkan keberadaan bandar (re–sales) kami. Dari bandar itu sendiri akan ada pengedarnya lagi. Dengan kuatnya di situ, kami nggak takut untuk kehilangan customer. Simpelnya, bandar itu yang belanja banyak produk-produk kita, lalu mereka punya pengedar tersendiri yang langsung nanti berhadapan dengan pembeli lainnya. Dengan sistem ini saya rasa cukup efektif. Media promosi kami juga lewat twitter dan facebook. Di twitter itu antusiasmenya lumayan tinggi. Kayak pas liburan kemarin, ada beberapa yang bertanya di mana bisa beli sambal Bu Susan. Kami bilang hanya di jual via online saja. Kebetulan yang bersangkutan tidak bisa datang ke rumah untuk membeli. Jadi saya pun bertindak sebagai kurir yang mengantarkan pesanan mereka. Tapi pesanan sambalnya harus minimal 6. Saya sempat kaget kebanyakan yang beli memang orang Jakarta yang nggak tanggung-tanggung pesannya bisa lebih dari 20 botol.

Target konsumen Anda?

Ya orang lokal lah! Sejauh ini kebanyakan customer kami sendiri orang-orang di luar Bali, seperti Jakarta dan Bandung. Kalau di Bali sendiri, customer-nya masih bersifat institusi. Jadi kami memperkenalkan beberapa sampelnya ke institusi tertentu, ketika mereka tertarik pasti akan langsung memesan.

Tidak mendirikan outlet atau toko khusus Sambel Bu Susan?

Memang sejauh ini kami belum buka outlet, tapi rencana untuk kesana sih ada. Soalnya saya masih mikir usaha dengan modal kecil dan untung besar. Kalau buka outlet kan harus sewa bangunan lagi dan itu sejauh pantauan saya masih mahal untuk sewa. Bagi saya, memproses seluruh produk ini di rumah dan memperjualbelikannya via online tetap menjadi cara yang lebih efektif. Tidak banyak keluar duit kan jadinya! Rencananya outlet yang akan kami bikin ini hanya sekedar brand awareness saja bahwa di tempat kami ada yang jualan sambal seperti Sambal Bu Susan ini.

Bagaimana proses produksinya?

Proses produksinya dikerjakan di rumah saya. Timnya ada tiga orang yakni saya, istri saya dan adik saya. Kalau misalnya kewalahan, biasanya saya minta tolong tenaga dari tetangga sekitar. Kami bisa memproduksi 10 kg sambal yang nantinya jadi sekitar 110 botol. Kami belum berani produksi banyak kalau belum ada permintaan yang banyak pula. Produksi tertinggi paling baru sekitar 20 kg. Target kita ke depan sih bagaimana bisa memproduksi 300 botol per harinya. Sekaligus sebagai motivasi ya!

Ada varian apa saja dari produk Sambel Bu Susan?

Ada lima varian sambal Bu Susan yakni sambal terasi, sambal teri, sambal udang, sambal bawang, dan sambal pete. Resepnya sih kita coba-coba sendiri. Awalnya memang dari konsep sambal Bali yang coba kami matengin, karena nggak mungkin kita jualan sambal matah apalagi kita nggak pake pengawet. Oleh karena itu kami berani bilang kalau Sambal Bu Susan itu adalah sambal khas Bali. Sambal ini bisa bertahan rata-rata 10 hari. Ya pengawet alaminya berasal dari minyak goreng di dalamnya itu. Asalkan sendok yang digunakan saat mengambil sambal tidak digunakan bergantian dengan orang lain. Untuk menghindari sambal cepat basi, saya juga membuat SOP (standard operating procedure) agar tetap mempertahankan cita rasa sambalnya. Ketakutannya kan seperti ini, ketika sambal ini hanya dikerjakan oleh satu orang tentu kita akan bergantung dengan satu orang itu saja. Ketika kita kehilangan orang itu, tentu akan membuat kita panik. Kalau ada SOP kan jadinya lebih praktis, semua orang bisa mengolah sambal sesuai dengan yang kita takarkan.

Kalau boleh tahu, bahan cabe yang digunakan berasal dari mana?

Kita menggunakan cabe dari Klungkung. Pertimbangannya karena cabe dari sana cenderung punya daya tahan yang lebih lama dan tentu lebih pedas. Jujur, pas mau survey cabe yang pedas, kita bukannya bertanya ke dagang cabe melainkan dagang rujak.

Modal awal dan omzetnya berapa?

Modal awal kecil cuma Rp 300.000. Omzet rata-rata 100 botol itu sekitar 3 Juta. Harga per botolnya sih Rp 20.000, tapi kalau beli di bandar atau pengedar bisa lebih murah sekitar Rp 17.000. Kenapa lebih murah? Ini agar tidak mematikan sisem re-seller ini. Saya misalnya jual 13 ribu ke Bandar. Lalu Bandar menjual paling sekitar Rp 15.000 ke pengedar lainnya. Sementara itu pengedar bisa menjual sambal ini ke customer sekitar 17 ribu.

Harapan ke depan?

Saya akan tetap fokus menggarap usaha ini. Target saya nanti ingin punya 100 karyawan, memproduksi 300 botol sambal setiap harinya dan mendirikan warung makan dengan Sambal Bu Susan sebagai brand utamanya. Ya semoga impian itu bisa tercapai. Saya sih optimis bisnis ini sangat menjanjikan karena marketnya jelas dan keuntungannya pun sudah mulai dirasakan meski usahanya sendiri belum menginjak setahun.

Sumber: http://www.smartbisnis.co.id/content/read/belajar-bisnis/inspirasi-bisnis/sambel-bu-susan-sambal-pedas-asli-bali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s